Posted by Unknown | 0 comments

jadwal seni taman budaya jateng april 2016

foto by : daniel la
Jadwal Kegiatan
Taman Budaya Jawa Tengah
Bulan APRIL Tahun 2016

-----------------------------------------------------------
1-2 April 2016; Pkl.: 10.00 WIB - selesai
Wisma Seni

Pergelaran Teater Modern
‘HARI TEATER DUNIA # 3’

Pameran Dokumentasi dan Kuliner:
setiap hari [pkl. 10.00 – 23.00]

tanggal 1 April:
Teater Tulang [Solo]; Teater EKS [Solo]; ORASI BUDAYA WHANI DARMAWAN [Yogyakarta];
Teater HIMANTIS [Solo]; Teater KAMASUTRA [Yogyakarta]; Teater GINYO [Lamongan]; Teater JAM MALAM YOGYAKARTA [Yogyakarta]; Teater RUANG HENING [Semarang]; Teater KOMUNITAS RACUN TIKUS [Surabaya]; WAYANG PRING.

Tanggal 2 April:
Lomba Pantomim; Lomba Puisi; Musik LASKAR ADIWIYATA PERCUSSION [Surakarta]; HENDRA SETIAWAN [Jakarta]; Teater SUDAH PEKAK SAKIT LAGI [Yogyakarta]; Teater KOMUNITAS POLELEA [Sigi]; Teater KILANG [Purwodadi]; Teater Q [Tegal]; Teater KUSUMA [Surabaya]; Musik GANASS [Sukoharjo]; FIELDTRIP FERFORMING ART [Yogyakarta]
WORKSHOP:
Sony Soemarsono [ Jakarta] ‘Materi Tata Cahaya’

Kontak: CAROKO TURAH [085 869 916 349]
-----------------------------------------------------------
8-10 April 2016; Pkl.: 19.00 WIB - selesai
Galeri Seni Rupa

Pameran Seni Rupa
‘SMK Negeri 9 Surakarta’
-----------------------------------------------------------
12-13 April 2016; Pkl.: 07.00 WIB - selesai
Teater Arena

Workshop Seni Modern ‘LIGHTING SENI PERTUNJUKAN’ Workshop ini akan membahas teknik dasar tata cahaya pada senipertunjukan.
Focus pada pembuatan desan tata cahaya pada sebuah pergelaran.
Sebagai studi kasus adalah pembuatan desain penataan cahaya
pada gedung teater arena yang mempunyai bentuk tapal kuda.

Kontak: TRIA VITA HENDRA DJAJA [081 8259 057]
-----------------------------------------------------------
14 April 2016; Pkl.: 19.30 WIB - selesai
Pendhapa Ageng

Wayang Kulit Jumat Kliwon ‘WISNU GAROT’ dalang: Ki Edi Suwondo dari Yogyakarta
-----------------------------------------------------------
15 April 2016; Pkl.: 19.30 - selesai
di Pendhapa Wisma Seni

Pergelaran Sastra Indonesia ‘JOGO 18’
‘RITUAL LAPAONG ASTRAL’
Komunitas Sastra Alit Karanganyar, Surakarta
-----------------------------------------------------------
19 April 2016; Pkl.: 19.30 WIB - selesai
Pendapa Ageng

Pergelaran Lesehan Keroncong Asli
OK JOYO SUWORO, Surakarta
pimp: Eko Supriyanto
&
OK DAMAI MUSIK, Karanganyar
pimp: Eko Wijaya

Kegiatan ini dilaksakan sejak tahun 2004 di Pendhapa Ageng TB Jateng
pada setiap Selasa ke-3 bulan Genap dengan menampilkan 2 kelompok
pentas ‘bareng’ di satu panggung.

Setiap kelompok dimohon:
— Menyiapkan pemain dari daerah asal kelompok,
tidak mengambil pemain dari daerah lain.
— Menggunakan peralatan akustik [tidak menggunakan spool].
— Membawakan 8 lagu (masing-masing kelompok).
— Untuk membawakan minimal 1 lagu baru karya kelompok dan atau karya orang lain yang belum pernah dipublikasikan dalam bentuk rekaman.
— Menyiapkan 1 lagu garapan Instrumentalia sebagai pembukaan, dan 1 (satu) lagu wajib sebagai penutupan ‘Rayuan Pulau Kelapa’ yang akan dinyanyikan secara bersamaan kedua kelompok.
-----------------------------------------------------------
20-21 April 2016; Pkl.: 07.00 WIB - selesai
Wisma Seni

Workshop Seni Tradisi
‘Vokal dan Sindenan Banyumasan’

Melanjutkan sesi pemahaman olah vocal sindenan yang telah beberapa kali di adakan
dengan nara sumber RA Supadminingtyas, S.Sn (alm).
Kali ini sengaja mengetengahkan olah vokal Banyumasan
dengan pokok pelatihan antara lain;
a. Pengenalan tembang-tembang Banyumasan;
b. Tembang dan parikan khas Banyumasan; dan
c. Penerapan Tembang pada Gedhing-gendhing gaya Banyumasan.

Kontak: YAYAT [081 329 666 999]
-----------------------------------------------------------
25 April 2016; Pkl.: 19.30 WIB - selesai
Pendhapa Wisma Seni

Pergelaran Tari Modern
‘Tidak Sekedar Tari # 42’
-----------------------------------------------------------
27 April 2016; Pkl.: 19.30 WIB - selesai
Pendhapa Ageng

Pergelaran Drama Tari Topeng
‘JAKA BLUWA’
Sutradara: Tony Haryo Saputro; Penata tari: Risang Janurwendo
Penata musik: Lumbini Tri Hasto
Yayasan Selaras Cipta Purusatama
-----------------------------------------------------------
Surakarta, 25 Maret 2016


Drs. Wijang Jati Riyanto
Kepala Seksi Pengembangan Seni
Read more...
Posted by Unknown | 0 comments

workshop hatedu 2016


informasi workshop #hatedu2016 terbuka untuk umum

kamis tanggal 31 maret 2016
*Pengajian Tubuh - Tony Broer (Bandung) pukul 08.00-15.00 di area wisma tbjt surakarta

*Penulisan Naskah - Hanindawan (Surakarta) di galery kecil tbjt surakarta

sabtu tanggal 2 april 2016
*Tata Cahaya - Sony Soemarsono (Jakarta) di gedung teater kecil isi surakarta

pendaftaran paling lambat hari minggu tanggal 27 maret 2016kuota peserta 25 orang per materi.

untuk informasi dan pendaftaran, silahkan menghubungi AYopie Pies 0853 1157 2980
Read more...
Posted by Unknown | 0 comments

WIWITAN UPACARA KEBO KETAN


UNDANGAN WIWITAN UPACARA KEBO KETAN
Keraton nginyom mengundang anda untuk hadir dan terlibat dalam wiwitan upacara kebo ketan yang akan dilaksanakan pada :
minggu 3 april 2016
di sendang margo alas begal, ngawi, jawa timur
jam 09:00 sampai sore

Acara:
Gotong royong memperindah tempat
bancak'an, seni reog tari, musik hutan
demo melukis seniman perupa top indonesia
dimeriahkan oleh para seniman:
anang budiawan, anto baret, bambang herras, budiyono kampret, daeng misbach bilok, doni suwung, faisal, galih naga seno & semeleh, heri dono, oppie andaresta, para dhanyang nusantara, pasukan semut keraton nginyom, pelukis ex karesidenan madiun, putu sutawijaya, reog sekar budoyo, samuel indratma, sri khrisna, trisna sanjaya, tulus rahadi, v. rommy iskandar, yuswantoro adi
Read more...
Posted by Unknown | 0 comments

Sedikit deskripsi tentang Bukan Musik Biasa


Bukan Musik Biasa adalah Forum Musik dan Dialog yang rutin perform tiap sekali dalam 2 bulan.
Surutnya forum-forum musik di Indonesia, kata mendiang Wayan Sadra, adalah latar yang mendasari lahirnya BMB. Terutama adalah meredupnya gairah Pekan Komponis Muda (PKM) yang dilahirkan oleh pemusik dan kritikus Suka Hardjana. Sejarah mencatat, PKM demikian bergairah dan sungguh penting bagi dinamika kehidupan musik, secara kompositoris maupun pelaku: para pemusik yang kemudian menyandang gelar komponis. PKM begitu penting dan perlu lantaran merupakan satu-satunya forum musik serius yang mengedepankan kebebasan kreativitas pada masa itu. Para komponis yang tampil di sana berlatar belakang basik musik yang bhineka. Bahkan, debut dari forum ini adalah mampu memparalelkan kretivitas komponis dengan basik musik etnis Nusantara dengan kreativitas yang lahir dari basik musik klasik-Barat. Banyak orang bilang, PKM juga mampu mewacanakan nilai-nilai kekinian musik etnik hingga mampu bersanding tanpa ada jarak dengan budaya musik apapun. Karya-karya yang sangat kental menggambarkan represntasi konsep dan pikiran kompositorik ini tertuang dalam buku Enam Tahun Komponis Muda: Sebuah Aletrnatif (1986) yang berisi catatan program dan diskusi panas di setiap penyelenggaraannya.
Hingga di pertengahan tahun 2000-an, tiada lagi forum sekaliber PKM yang menciptakan kesuburan kreativitas dan eksperimentasi bagi banyaknya varian musik yang ada. Kata mendiang Sadra, setelah PKM mengalami mati suri di tahun 1990-an, maka tiada lagi forum yang menjadikan kreativitas sebagai kata sakti, bahkan tanpa disadari terlanjur menjadi tujuan utama. Memang, paralel dengan arus desentralisasi sebagai buah dari orde reformasi, beberapa daerah dan kantong-kantong budaya yang memiliki resources kebudayaan yang kuat mulai menggagas dan mengadakan forum atau festival musik. (Ingat, sepanjang kejayaannya, PKM diselenggarakan di Taman Ismail Marzuki, Jakarta—sebuah pusat dan sekaligus sebagai sumber arus utama bermacam kegiatan seni.) Hanya saja, forum yang tak terhitung jumlahnya itu kemudian raib dari agenda budaya para seniman. Beberapa di antaranya hanya terselenggara satu dua kali dan seterusnya tak ada kabar beritanya. Ada yang mampu menjaga kontinuitas penyelenggaraan namun tak bisa menjaga visi estetis yang hendak dikembangkan oleh forum tersebut. Tanpa mengurangi kehebatannya, negeri ini pernah menyatat Forum Musik September yang cuma sekali muncul (1998), namun memberi energi kreatif yang tak kalah penting dengan PKM. Ada juga Surabaya Full Music yang terselenggara setiap tahun sejak tahun 2000 dan bertahan selama hampir satu dasawarsa namun kehilangan tema di ujung ke hari baannya. Atau, Yogyakarta Contemporary Music Festival yang, maaf, kadang terselenggara kadang tidak, lantaran kesulitan dana dan/atau problem teknis lainnya.
Nah, pada momen-momen seperti inilah Sadra memulai BMB dengan ikhtiar untuk mengembalikan ruang gerak yang lebih luas dan mendesak agar energi-energi kreatif segera mendapatkan salurannya. Sadra, melalui BMB, mencoba membangun kembali wilayah kebebasan para komponis yang telah hilang, terutama pada generasi komponis muda. Ia bahkan juga mengajak para pemusik yang terlanjur memiliki visi dan cita-cita menjadi bagian dari pola musik industrial (pop) dan memimpikan kehidupan sebagai “super star” untuk kembali mengadakan perlawanan. “Dari pada kita rumongso melu dunia industrial tapi sesungguhnya tidak tersentuh, ora kathut, sama sekali, alangkah lebih baik mencari kemerdekaan dan mengekspersikan diri dalam kapasitas individual,” kata Sadra sekali waktu.
Embrio forum ini sebenarnya telah mekar jauh sebelum BMB lahir. Sadra pada tahun 1999 membuat Musik Akhir Bulan Genap (MABG)—sebuah forum yang memang selalu diadakan di setiap penghujung hitungan bulan genap (Februari, April, Juni, dst.), yang berarti diadakan setiap dua bulan sekali pula. Visi yang hendak diudar persis dengan BMB. Sayang, forum ini hanya bertahan sekitar 3 tahun. Belakangan MAGB muncul kembali. Hanya saja, oleh pengelola baru, forum ini bergeser konsepnya menjadi ajang bagi kelompok musik (combo band) yang menampilkan karya-karya industrial namun berada di jalur independet lable. Barangkali MABG dianggap kurang subversif, sehingga Sadra memunculkan BMB yang lebih membuka ruang pergulatan ide bagi para penampilnya.
Sebagai forum yang memerdekan gagasan-gagasan kreatif, BMB telah dengan sendirinya menempatkan diri sebagai laboratorium eksperimentasi bagi para komponis, untuk membangun kembali kreativitas, menemukan cara atau metode, konsep-konsep dan pikiran-pikiran baru dalam penciptaan musik. Bersyukurlah Sadra, untuk mengawal dan menjaga visi estetis tersebut ia mendapat mitra Taman Budaya Surakarta (TBS) yang mensuport hampir keseluruhan keperluan teknis yang dibutuhkan: Pendapa Wisma Seni sebagai venue, Sound System dan lighting berikut semua tim teknisnya, hingga akomodasi, konsumsi, serta publikasinya.
Sadra dan TBS lantas tak bisa dilepaskan dari dan dengan BMB. Ketiganya, dalam konteks ini, tak bisa dilepaskan dengan dunia musik kontemporer kita. Dalam hal ini, Sadra, secara personal, telah melahirkan dan menyebarkan ruang penciptaan musik kontemporer yang menjebol sekat-sekat kebudayaan musik. Sementara BMB memberi dan membuka ruang penciptaan bagi komponis muda untuk berkiprah di luar jalur musik mainstrem (pop) yang terlalu sempit untuk ruang ekspresinya. Adapun TBS sebagai institusi kebudayaan telah menunjukkan perannya yang sangat membuka ruang yang akomodatif bagi ide dan pemikiran yang tergolong berani. Betapa tidak, di tengah target in come finansial yang harus disetor ke kantor dinas Pariwisata Propinsi, lembaga pemerintah tersebut berani mensuport program BMB yang justru menggerogoti anggaran bulanan. Pada momen-momen ini, kontribusi Sadra, TBS, dan BMB sangat nyata dan sungguh tak bisa diabaiakan.
Pada semua ihwal di atas, dunia akan tahu bahwa dari awal BMB sudah memesona pada semua lini proses produksinya. Bukan semata karena istilahnya yang sudah meneror lantaran diksi yang digunakan telah menjadi konsep, visi, sekaligus “ruang” musikal itu sendiri. Bukan pula oleh tampilan para pemusik yang beraneka ragam visi artistiknya. Serta, bukan pula sebagai forum yang hanya akan mengakomodasi karya dan komponis baru. BMB adalah ruang perayakan pergulatan ide dan gagasan kreatif baik bagi para komponis, audiens, sekaligus penyelanggara yang dituntut untuk bisa menyediakan tema yang dinamis. Ruang yang di dalamnya meniscayakan dialog kritis antarpemusik, audiens, dan penyelenggaranya sekaligus.
Read more...
Posted by Unknown | 0 comments

PERKEMBANGAN MUSIK KERONCONG DI SURAKARTA TAHUN 1960-1990




Genre musik keroncong ditanggapi beragam oleh masyarakat. Ada masyarakat yang menyukai, ada masyarakat yang kurang menyukai, dan ada masyarakat yang tidak menyukainya. Pemahaman masyarakat tentang musik keroncong  berbeda-beda dan sesuai dengan perkembangan jaman. Pada awalnya pemahaman masyarakat tentang musik keroncong sebatas hiburan. Pada masa modern ini pemahaman masyarakat terhadap musik keroncong sebagai bagian dari kebudayaan Indonesia yang harus dilestarikan. Musik keroncong merupakan contoh terbaik sebagai sumber budaya yang dapat dilebur menjadi suatu indentitas tersendiri.
1.       Keberagaman tersebut membuatnya menarik untuk dikaji. Musik keroncong berasal dari jenis musik Portugis yang dikenal sebagai fado yang diperkenalkan oleh para  pelaut dan budak kapal niaga bangsa itu sejak abad ke-16. Musik ini disebut moresco. Masa evolusi keroncong di mulai tahun 1880 hingga kini. Tahapan masa  perkembangan musik keroncong meliputi masa awal/tempo dulu (1880-1920), masa tengah/keroncong abadi (1920-1959), masa keroncong modern (1959-2000), dan masa keroncong millenium (2000-kini).
2.       Musik keroncong adalah musik yang mempunyai karakter unik karena bisa beradaptasi dengan kebudayaan-kebudayaan yang ada di Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan perkembangan musik keroncong yang  berawal dari daerah Tugu di Batavia (Jakarta) kemudian  berkembang ke luar Jakarta seperti di kota Semarang dan Surakarta di Jawa Tengah, Yogyakarta, serta kota Surabaya di Jawa Timur. Musik keroncong di Jawa  Kemampuan  beradaptasi ini membuktikan bahwa musik keroncong dapat diterima dengan baik oleh masyarakat. Musik keroncong awal abad ke-20 belum memiliki bentuk yang sempurna, namun sudah mendapat tempat di hati masyarakat. Hal ini diungkap oleh Tancil Paleo yang menyatakan bahwa tahun 1920-an lagu-lagu keroncong sudah menyebar luas dan digemari orang. Pada waktu itu perbendaharaan lagu-lagu keroncong masih kurang, sehingga di Surakarta atau Jawa Tengah menjadi pusat pengembangan musik keroncong dapat  berpadu dengan beberapa lagu daerah yang diiringi alat musik keroncong. Setelah Indonesia merdeka, perkembangan pusat musik keroncong berpindah dari daerah Tugu di Jakarta ke daerah Jawa Tengah salah satunya Surakarta yang menghasilkan jenis keroncong baru yaitu keroncong langgam. Kota Surakarta menjadi barometer musik keroncong karena banyak grup orkes keroncong yang  berasal dari Surakarta, banyak seniman keroncong yang  berasal dari Surakarta seperti Gesang, Waldjinah, dan Sundari Soekotjo. Di Surakarta muncul jenis musik keroncong langgam, dan terdapat perusahaan rekaman Lokananta yang banyak merekam lagu-lagu keroncong  pada tahun 1957-1983. Dalam kurun waktu tahun 1957-1983 terdapat 11 grup orkes keroncong yang melakukan rekaman di Lokananta, menghasilkan 25 Album Keroncong dan 296 lagu dengan rincian 217 lagu keroncong asli, 40 keroncong stambul, dan 56 keroncong langgam yang direkam oleh perusahaan rekaman Lokananta.
3.       Penggunaan instrumen musik barat menjadi instrumen pada musik gamelan. Keparalelan yang jelas adalah: biola-rebab, flute-suling, gitar melodi-celempungan, keroncong (ukulele)-ketuk, cello-kendang ciblon/batangan, bass(bila dipergunakan)-gong. Lihat, Harmunah. 1987.
 Sumber :  Yogyakarta: Pusat Musik Liturgi, hlm. 10

 
Dari  Wawancara dilaksanakan dengan mewawancarai narasumber yang kredibel yaitu  pemimpin orkes keroncong Swastika yang bernama Sapto Haryono, pegawai Taman Budaya Surakarta Agung Pamuji dan Suparman di Surakarta. Sumber primer juga didapat peneliti meliputi dokumen-dokumen seperti data album keroncong dari Lokananta tahun 1957-1983 yang diperoleh dari  perusahaan rekaman Lokananta di Surakarta, album keroncong berbentuk CD, piringan hitam, daftar orkes keroncong di Surakarta tahun 1990-sekarang yang diperoleh dari Taman Budaya Surakarta dan perusahaan rekaman Lokananta di Surakarta. Sumber sekunder meliputi, jurnal, buku-buku, artikel dan koran yang  berkaitan dengan tema yang diangkat oleh peneliti. Tahap kedua yakni kritik, kritik yang digunakan adalah kritik intern dan eksteren, kritik intern dilakukan karena  berhubungan dengan isi dan keakuratan dari data maupun dari literatur-literatur yang diperoleh seperti sumber koran, majalah, serta buku-buku yang menjelaskan tentang musik keroncong, sedangkan kritik intern lebih menitik beratkan pada kebenaran isi dengan cara membandingkan sumber primer dengan sumber sekunder untuk mendapatkan data yang relevan serta menyeleksi data menjadi fakta. Kritik ekstern dilakukan untuk melihat keaslian sumber seperti album-album Keroncong yang digunakan adalah album yang diproduksi pada tahun 1957-1983 di Lokananta sebagai perusahaan rekaman yang berada di kota Surakarta. Tahap ketiga adalah interpretasi untuk menganalisi sumber yang saling  berkaitan sesuai tema penelitian dan Hasil rekonstruksi yang dihasilkan dari proses interpretasi yakni : (a) Musik keroncong pertama kali berkembang di daerah Tugu, Batavia (Jakarta), (b) Pada masa pendudukan Jepang  pusat perkembangan musik keroncong bergeser ke Surakarta, sebagai salah satu dampak dari porpaganda yang dilakukan oleh Jepang, (c) Perkembangan musik keroncong di Surakarta dibagi dalam tiga periode,  periode pertama tahun 1957-1970 merupakan awal  perkembangan musik keroncong, periode kedua tahun 1971-1980 merupakan puncak kepopuleran musik keroncong, dan periode ketiga tahun 1981-1990 musik keroncong mulai mengalami kemunduran.

1. Sejarah Musik Keroncong di Indonesia
Sejarah masuknya musik Keroncong ke Indonesia  bertepatan dengan pendaratan ekspedisi Portugis di Semenanjung Malaka dan Kepulauan Maluku tahun 1512. Musik yang dibawa oleh Portugis dikenal dengan Fado yang merupakan embrio musik keroncong. Musik keroncong awalnya berkembang di daerah Tugu dan dimainkan oleh keturunan Portugis dikenal dengan mardijkers. Asal nama “Keroncong” terdapat beberapa  pendapat. Ada yang berpendapat bahwa nama tersebut  berasal dari terjemahan bunyi alat musik semacam gitar kecil dari Polynesia (Ukulele) yang berbunyi crong, crong, crong. Musik keroncong berkembang di pulau Jawa pada abad ke-20, yang dalam perkembangannya terpengaruh oleh musik-musik daerah (tradisional), terutama di Jakarta, Jawa Tengah, yaitu Yogyakarta dan Surakarta, dan di Jawa Timur (Surabaya). Penyebaran musik keroncong tersebut dilakukan dengan berbagai cara antara lain lomba keroncong ( kroncong concours ), melalui media rekam dalam bentuk  piringan hitam yang didengarkan melalui gramophone, melalui radio, penyanyi dan musisi keroncong, dan lain-lain. Musik keroncong mulai dikenal melalui radio sejak pertama kali radio mengudara di Jawa tahun 1925 yaitu NIROM ( Nederlands Indische Radio Omroep  Maatschappy), tahun 1933 sampai 1939 di CIRVO (Chineesche Inheemsche Radioluisteraars Vereniging Oost Java), kemudian di Jakarta pada tahun 1942-1945 di radio  Hosokanxikyoku.
Pada masa pendudukan Jepang, Jepang juga mengijinkan perkumpulan budaya yang dikenal dengan nama Keimin Bunka Shidosho Hal tersebut juga diungkapkan oleh Ganap dalam penelitiannya yang menjelaskan:

During Japanese occupation, keroncong music has ever been banned by Keimin  Bunka Shidosho(people’s cultural agency), due to its servility or puppy love atmosphere, and tearful text expressed by the crank musicians.”

Pelarangan Jepang terhadap pertuntukan Keroncong Tugu yang menganggap irama musik Keroncong Tugu yang rancak (cepat dan bersemangat), dikhawatirkan dapat membangkitkan semangat pemuda dan memicu pemberontakan. Pada masa Jepang, terjadi  pergeseran pusat perkembangan musik Keroncong di Jawa yaitu dari daerah Tugu ke Jawa Tengah khususnya Surakarta dan Yogyakarta. Musik keroncong yang  berkembang di Surakarta yang lebih beraliran lembut dan mendayu-dayu dianggap Jepang tidak membahayakan. Pada saat inilah dimulai perpindahan pusat  perkembangan musik keroncong dari daerah Tugu ke Jawa Tengah khususnya Surakarta dan Yogyakarta. Pada masa revolusi kemerdekaan tahun 1945 diciptakan lagu-lagu keroncong bertema perjuangan dan semangat cinta tanah air. Salah satu lagu yang terkenal sebagai pembangkit semangat perjuangan antara lain Sepasang Mata Bola, Jembatan Merah, dan lain-lain. Pada masa orde lama, diberlakukan kebijakan untuk membatasi budaya barat yang masuk ke Indonesia. Hal ini dimanfaatkan oleh para seniman musik keroncong untuk lebih giat mempopulerkan musik keroncong sebagai kebudayaan Indonesia. Hal ini masih berlanjut  pada masa Orde Baru, dimana pada tahun 1970-1980-an menjadi masa perkembangan industri musik di Indonesia termasuk juga musik keroncong. Sejak era Presiden Soeharto tahun 1966-1998 musik keroncong mendapat tempat yang spesial. Pada setiap acara resmi kenegaraan, Presiden Soeharto selalu mengundang pertunjukan musik keroncong di Istana Negara. Pada tahun 1970-1980-an dikenal sebagai masa keemasan musik keroncong. Setelah industri rekaman  piringan hitam beralih ke industri rekaman kaset, banyak lagu-lagu keroncong direkam ulang dalam bentuk kaset yang diputar menggunakan tape recorder, lebih praktis dari gramophone dan lebih bagus suaranya. Musik keroncong pada saat itu juga diaransir dengan irama pop sehingga lebih diterima oleh kaum muda. Banyak grup  band yang membuat rekaman lagu keroncong versi pop, yang kemudian disebut pop keroncong. Hampir semua grup band yang terkenal waktu itu berlomba membuat rekaman lagu keroncong, seperti Koes Plus, The
Mercy’s, Panbers, Favourite’s, dan lain sebagainya. Penyanyi keroncong yang populer pada masa itu antara lain Waljinah. Beberapa penyanyi pop seperti Hetty Koes Endang dan Mus Mulyadi juga ikut menyanyi dengan irama pop keroncong. Jenis musik keroncong di Indonesia bila dibagi  berdasarkan waktu menjadi:
a)      Keroncong awal yang dikenal denang jenis keroncong Moresco atau keroncong asli dan Stambul.
b)      Keroncong tengah, jenis keroncong yang berkembang adalah keroncong beat.
c)       Keroncong Modern, jenis keroncong antara lain keroncong beat. Surakarta Sebagai Pusat Barometer Musik Keroncong

2. Surakarta Sebagai Pusat Barometer Musik Keroncong
Secara geografis kota Surakarta berada antara 110o45’15” - 110o45’35”BT dan 7o36’00” - 7o 56’00”LS serta memiliki luas wilayah 44,04 km2.12 Surakarta merupakan kota budaya yang merupakan kota kedua terbesar di propinsi Jawa Tengah setelah Semarang. Pada masa penjajahan Belanda Surakarta merupakan pusat Karesidenan Surakarta yang wilayahnya meliputi Boyolali, Sukoharjo, Karanganyar, Wonogiri, Sragen dan Klaten. Kota ini menempati posisi penting dalam peta  politik nasional. Keberadaan Keraton Kasunanan dan Mangkunegaran juga menjadi salah satu alasan mengapa Surakarta menjadi kota pelestari budaya khususnya  budaya Jawa. Surakarta menjadi pusat karesidenan karena kota Surakarta memiliki ekonomi yang lebih maju dari daerah sekitarnya. Hal ini berpengaruh pada penduduknya yang homogen, terdiri dari kaum bangsawan dari Keraton, warga keturunan Arab, dan etnis Tionghoa. Pusat  perekonomian di Karesidenan Surakarta membuat sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai pedagang. Surakarta menjadi kota pelestari budaya tidak lepas dari peran masyarakat dan pemerintah. Jenis  budaya yang dilestarikan meliputi seni tari, seni  pertunjukan, dan seni musik termasuk musik keroncong. Masyarakat Surakarta memberikan apresiasi yang besar terhadap musik keroncong, karena menganggap musik keroncong memiliki ciri khas yang unik. Apresiasi terhadap musik keroncong yang diberikan masyarakat Surakarta tidak lepas dari anggapan bahwa dengan adanya musik keroncong maka kebudayaan Surakarta akan dikenal sampai keluar Surakarta bahkan ke seluruh Indonesia.13 Keberadaan grup-grup musik keroncong hampir di setiap wilayah di Surakarta. Hal ini didukung dengan adanya tempat-tempat umum untuk pertunjukan  budaya seperti Taman Sriwedari, Taman Budaya Surakarta, dan lain-lain sebagai perwujudan bentuk apresiasi/dukungan masyarakat dan pemerintah Surakarta terhadap perkembangan musik keroncong. Masuknya musik keroncong di Surakarta sebenarnya telah terjadi sejak tahun 1940-an. Namun,  perkembangan musik keroncong di Surakarta mengalami  perkembangan pesat sejak tahun 1960. Latar belakang Surakarta menjadi pusat perkembangan musik keroncong dibagi menjadi beberapa faktor yaitu faktor eksternal dan internal. Faktor eksternal Surakarta sebagai pusat  barometer musik keroncong antara lain:
(1)    Adanya tekanan dan pembatasan dari pemerintah Jepang terhadap warga keturunan Portugis di Tugu;
(2)    Larangan  pertunjukan musik keroncong di Tugu.
Faktor eksternal perpindahan pusat musik keroncong dari Jakarta ke Jawa Tengah khususnya Surakarta adalah pada masa pendudukan Jepang tahun 1942, warga keturunan Tugu yang dikenal dengan sebutan De Mardijkers dianggap sebagai musuh Jepang karena merupakan bagian dari orang Barat. Penduduk Tugu banyak yang meninggalkan kampung tugu dan  pindah ke tempat yang lebih aman. Sebelum perang dunia ke II terdapat kurang lebih 60 kepala keluarga di Kampung Tugu, tetapi kemudian hanya terdapat kurang lebih 42 keluarga yang terdiri dari orang-orang tua. Jumlah 42 keluarga yang masih tersisa di kampung Tugu disebabkan karena terjadi perpindahan keluarga tersebut diatas ke Jawa Barat, Irian Barat, Jawa Timur, bahkan Belanda. Pada masa pendudukan Jepang juga dilakukan larangan pertunjukan musik keroncong di Tugu yang mengakibatkan banyak grup musik keroncong yang  bubar, salah satunya Orkes Krontjong Poesaka Moresco. Jepang menganggap bahwa irama musik Keroncong Tugu yang rancak (cepat dan bersemangat) dapat membangkitkan semangat pemuda dan memicu  pemberontakan. Pembentukan perkumpulan budaya keimin bunka sidosho merupakan salah satu bentuk  propaganda Jepang untuk menarik simpati masyarakat. Kebijakan yang dilakukan Jepang berdampak pada lambatnya perkembangan musik keroncong khususnya di Jakarta terutama Tugu yang merupakan asal musik keroncong. Faktor internalnya antara lain:
(1)    Keberadaan kota Surakarta sebagai pusat Karesidenan membuat kebudayaan baru mudah diterima;
(2)    Jepang mengijinkan dan mendukung perkembangan musik keroncong di Surakarta yang irama musik keroncongnya memiliki tempo lebih lambat dan tidak membahayakan;
(3)    Lahir grup-grup musik dan musisi keroncong di Surakarta;
(4)    Muncul jenis keroncong langgam;
(5)    Adanya perusahaan rekaman Lokananta.

Faktor internal Surakarta menjadi pusat  perkembangan musik keroncong antara lain karena keberadaan kota Surakarta sebagai pusat Karesidenan yang masyarakatnya homogen, sehingga membuat kebudayaan baru mudah untuk diterima. Pada masa Jepang, musik keroncong sudah menjadi bagian dari seni masyarakat Surakarta. Musik keroncong yang awalnya telah berkembang lebih dahulu di Jakarta juga dapat diterima di Surakarta. Pergeseran pusat perkembangan musik keroncong di Jawa ini menjelaskan perkembangan musik keroncong yang lahir dari kampung Tugu mulai bergeser ke Jawa Tengah, khususnya Surakarta dan Yogyakarta. Jepang mengijinkan dan mendukung perkembangan musik di Surakarta karena menganggap irama musik keroncong langgam yang dibawakan dalam tempo lebih lambat tidak membahayakan. Hal tersebut mendorong mulai munculnya grup-grup musik dan musisi keroncong di Surakarta. Bukti lainnya dengan adanya penyelenggaraan Concours Keroncong oleh Solo Hosokyoku tahun 1944 yang diikuti penyanyi-penyanyi keroncong dari seluruh  pulau Jawa. Pada masa revolusi kemerdekaan (1945-1950)  perkembangan musik keroncong di Surakarta kurang mendapat sorotan, pada masa itu sebagian besar radio memutarkan lagu-lagu keroncong yang bersifat patriotik dan nasionalis yang bertujuan untuk mengobarkan semangat juang bangsa Indonesia. Masa keroncong ini dikenal dengan keroncong revolusi. Para komposer yang menciptakan lagu keroncong masa ini antara lain Ismail Marzuki, Kusbini, Maladi, Samsidi, Mardjo Kahar dan lain-lain. Lagu-lagu yang populer pada masa ini antara lain Sepasang Mata Bola diciptakan tahun 1947, Bandung Selatan di Waktu Malam tahun 1948, Selamat Datang Pahlawan Muda tahun 1949, dan masih banyak lagi. Di Surakarta musik keroncong mulai banyak digemari setelah dikombinasikan dengan budaya Jawa yaitu langgam Jawa yang menghasilkan jenis musik keroncong langgam. Adanya kedekatan budaya musikal orang Surakarta dengan keroncong membuat  perkembangan musik ini menjadi cepat berkembang dan mudah diterima masyarakat. Seniman dan peminat musik keroncong di Surakarta semakin banyak. Alat musik keroncong yang digunakan juga berakulturasi dengan musik tradisional seperti gamelan sehingga nada yang dihasilkan lebih tenang dan lembut. Perpindahan nadanya lebih lambat dan cengkok yang dihasilkan membuat keroncong yang berkembang di Surakarta terdapat perbedaan dengan adanya jenis keroncong langgam. Perkembangan musik keroncong di Surakarta salah satunya melalui siaran radio, oleh karena itu  penggemar musik keroncong tidak terbatas pada  beberapa golongan tertentu saja, melainkan dari berbagai golongan dan semua tingkatan usia. Musik keroncong yang berkembang di Surakarta meliputi jenis keroncong asli, keroncong langgam dan keroncong stambul. Di Surakarta terdapat perusahaan rekaman nasional bernama Lokananta yang didirikan tahun 1956 yang banyak menyimpan arsip rekaman sejak tahun 1957-1990-an. Banyak album keroncong direkam di Lokananta pada kurun waktu tahun 1957-1983. Rekaman lagu-lagu keroncong tersebut mempermudah masyarakat untuk mendengarkan musik keroncong lewat media pita kaset, tape recorder, hingga yang terbaru dalam bentuk CD dan membuat musik keroncong di Surakarta dapat dinikmati oleh semua kalangan. Adanya tempat-tempat untuk kegiatan kesenian seperti Sriwedari, Balai Sujadmoko, dan lain-lain menjadikan kota Surakarta dikenal sebagai pusat  perkembangan musik Keroncong. Sampai saat ini tempat-tempat tersebut menjadi tempat untuk mengadakan  pertunjukan musik keroncong secara berkala. Hal ini merupakan salah satu upaya masyarakat dan Pemerintah kota Surakarta untuk memfasilitasi para seniman dan  penyanyi keroncong bertujuan untuk berkreasi dan untuk melestarikan budaya khususnya musik keroncong. Di Surakarta banyak grup musik keroncong baik amatir maupun profesional. Grup-grup musik keroncong yang terkenal di Surakarta pada waktu itu diantaranya adalah Bunga Mawar, Irama Sehat, Sederhana, Satria, dan Cempaka Putih, Suara Kencana, Radio Orkes Surakarta, Cendrawasih, Nada Pratidia, Mawar Sekuntum, dan Rhapsodia. Grup musik keroncong  profesional yang cukup populer berasal dari Surakarta yang pernah melakukan rekaman album keroncong di Studio Musik Lokananta antara lain Orkes Keroncong Bintang Surakarta pimpinan Waldjinah, sedangkan grup musik keroncong amatir cukup banyak karena hampir di setiap Rukun Tetangga memiliki grup musik keroncong sendiri dan formasi pemain sering berganti-ganti. Data terakhir yang dimiliki oleh pemerintah Surakarta terdapat kurang lebih 35 grup musik keroncong yang masih eksis hingga sekarang. Oleh masyarakat Surakarta, keberadaan grup musik keroncong ini selain untuk melestarikan kesenian musik keroncong juga bertujuan untuk berkumpul dan menyalurkan hobi. Pembawaan musik keroncong di Surakarta memiliki ciri khas sendiri yang berbeda dengan Jakarta. Keroncong gaya Surakarta mempergunakan alat ukulele stem E dengan tiga tali. Cara memainkannya dipetik satu  per satu pada talinya sesuai dengan akor yang dibawakan. Pada birama ke empat atau ke delapan sering ditambah dengan petikan sinkop. Permainan gitar tidak begitu menonjol, hanya mengimbangi jalannya tempo. Cello sangat penting karena bertugas sebagai kendang yang memberikan tanda memasuki irama rangkap. Permainan Bas bebas bervariasi menyesuaikan dengan tempo dari  pemain cello. Biola dan flute bertugas sebagai pembawa lagu. Musik keroncong mengalami perkembangan yang  pesat di Surakarta, salah satunya dibuktikan dengan munculnya jenis keroncong langgam sebagai hasil akulturasi musik keroncong dengan musik tradisional. Partisipasi masyarakat dan pemerintah dalam melestarikan budaya menjadi faktor penting musik keroncong dapat berkembang pesat dan kota Surakarta menjadi pusat perkembangan musik keroncong.

3. Perkembangan Musik Keroncong di Surakarta Tahun 1960-1990.
Perkembangan Musik Keroncong di Surakarta  pada tahun 1960 tidak terlepas dari keberadaan Studio Musik Lokananta yang diresmikan pada 29 Oktober 1956 oleh Menteri Penerangan Soedibjo yang merupakan studio rekaman pertama di Indonesia. Studio rekaman Lokananta yang banyak menyimpan lagu-lagu baik dalam bentuk piringan hitam, pita kaset, maupun yang terbaru dalam bentuk kaset CD. Lokananta menyimpan arsip lagu dari tahun 1957 hingga tahun 2000, sedangkan untuk musik jenis keroncong Lokananta menyimpan arsip dari tahun 1957-1983. Lokananta sekarang ini juga difungsikan sebagai museum dan dapat dikunjungi oleh masyarakat. Data yang diperoleh dari Lokananta tentang album keroncong dalam kurun waktu tahun 1957-1983 dikatakan bahwa terdapat 11 grup orkes keroncong yang melakukan rekaman di Lokananta, menghasilkan 25 Album Keroncong dan 296 lagu dengan rincian 217 lagu keroncong asli, 40 keroncong stambul, dan 56 keroncong langgam. Dari data tersebut dapat diketahui bahwa keroncong asli berada pada urutan pertama dengan  jumlah lagu kerocong terbanyak yang direkam yaitu 217 lagu, sedangkan keroncong langgam menempati urutan kedua dari lagu keroncong yang direkam dengan jumlah 56 lagu dan yang terakhir adalah keroncong stambul dengan jumlah 40 lagu. Ketiga jenis keroncong tersebut tidak direkam sendiri-sendiri melainkan dalam setiap album hampir semua terdapat ketiga jenis keroncong yaitu keroncong asli, stambul, dan langgam. Berikut ini adalah daftar hasil klasifikasi lagu-lagu keroncong secara umum.

Jenis musik keroncong yang berkembang di Surakarta antara lain:
a)      (a)Keroncong Asli;
b)      (b) Keroncong Stambul;
c)       (c) Keroncong Langgam.
Keroncong asli merupakan jenis musik keroncong dimana sebagian lagu-lagunya adalah lagu-lagu asli Portugis. Perkembangan musik keroncong asli mengalami perubahan karena lagu-lagunya berkembang dan tersebar secara lisan tanpa ada catatan. Ciri khas pembawaan jenis musik keroncong asli di Surakarta dimainkan dengan irama musik yang harmonis dan kadang melankolis. Syair lagu keroncong asli dibawakan dengan melodi dan syair yang improvisatoris, ber-cengkok dan gregel. Sedangkan ritme/irama musik keroncong asli sering tidak pas nadanya dengan syair yang dilagukan, sehingga dalam istilah keroncong disebut nggandul. Tempo irama dalam musik keroncong asli umumnya menggunakan nada/irama andante dan moderato. Alat musik keroncong secara umum ada tujuh macam, yaitu
(1) biola.
(2) flute (seruling).
(3) gitar.
(4) ukulele.
(5) banyo (cak atau cak tenor).
(6) cello.
(7) bass.
Apabila sudah ada ke tujuh alat musik tersebut, maka permainan musik keroncong dapat dikatakan lengkap. Peran masing-masing alat terbagi menjadi dua yaitu sebagai
(1) pemegang melodi meliputi biola, dan flute (seruling).
(2) sebagai pengiring meliputi gitar, ukulele, banyo, cello, dan bass.
Nada dan irama khas keroncong asli memiliki jumlah birama 28 dengan bentuk kalimat A-B-C dinyanyikan dua kali. Bentuk iringan musik dalam lagu keroncong asli diawali oleh intro yang diambil dari baris 7 (B3) mengarah ke nada awal lagu yang dilakukan oleh alat musik melodi seperti flute, biola, atau gitar dan interlude. Di tengah-tengah nada dalam musik keroncong memiliki modulasi yang standar untuk semua keroncong asli.

Keroncong jenis kedua di Surakarta adalah keroncong stambul. Stambul yang berkembang di Surakarta merupakan jenis lanjutan yang sebelumnya telah berkembang di Jakarta. Di Surakarta jenis keroncong ini kurang populer seperti jenis keroncong asli, namun dalam setiap album keroncong yang diproduksi terdapat beberapa lagu keroncong stambul. Jumlahnya kebanyakan kurang dari 5 judul lagu. Hal tersebut merupakan salah satu bentuk upaya melestarikan musik keroncong dimana sebagian besar rekaman album keroncong yang dilakukan oleh Lokananta dalam setiap albumnya terdapat ketiga jenis musik keroncong asli, stambul dan langgam. Jenis stambul yang terdapat dalam album keroncong produksi Lokananta meliputi stambul I dan stambul II. Ciri umum dari keroncong stambul adalah jumlah birama 16 birama. Tempo yang digunakan dalam keroncong jenis stambul adalah andante. Alat musik yang digunakan sama dengan keroncong asli yaitu biola, flute (seruling), gitar, ukulele, banyo (cak atau cak tenor), cello, dan bas.

Perbedaan antara stambul I dan stambul II adalah  pada stambul I musik dan vokal saling bersautan yaitu dua birama instrumental dan dua birama berikutnya diisi oleh vokal, begitu seterusnya hingga lagu berakhir. Sedangkan pada stambul II vokal dinyanyikan secara recitatif yaitu peralihan dari akor I ke akor IV tanpa iringan. Pembawaan nada melodi dan syair dalam stambul II improvisatoris sama dengan keroncong asli, dengan cengkok dan gregel. Pembawaan nada vokal dalam keroncong stambul bersifat halus dan lembut, serta mengharukan dan penuh percintaan. Jenis keroncong stambul terdiri dari dua bentuk yaitu stambul I dan stambul II. Lagu-lagu jenis stambul I antara lain Baju Merah. Stambul II contoh lagunya Jali-jali, Patah Di Jalan, Kecewa, Kicir-kicir, dan lain-lain. Jenis keroncong yang ketiga adalah keroncong langgam.Keroncong langgam merupakan jenis keroncong  baru yang lahir di Surakarta. Jenis keroncong langgam ini dipopulerkan oleh seniman Andjarani dan juga Waljinah yang berasal dari Surakarta. Dalam mempopulerkan musik keroncong langgam, mereka membentuk grup orkes keroncong yaitu Cempaka Putih untuk Andjarani dan Bintang Surakarta untuk Waldjinah. Jenis keroncong langgam mulai dikenal luas oleh masyarakat sejak tahun 1966 ditandai dengan dilakukannya rekaman album keroncong yang salah satu lagu yang populer berjudul Yen Ing Tawang Ono Lintang yang di komposeri oleh Andjarani. Ciri umum dari keroncong langgam ini antara lain syair lagu keroncong yang dinyanyikan kebanyakan menggunakan bahasa daerah yaitu bahasa Jawa halus. Keroncong langgam memiliki ciri tangga nada dan ritme yang diarahkan dari musik daerah. Keroncong langgam yang berkembang di Surakarta memanfaatkan beberapa alat musik gamelan yang dipadukan dengan alat musik keroncong yang sudah ada. Jadi seolah-olah musik gamelan bisa dimainkan bersama dengan beberapa alat musik lain menjadi sebuah instrumen baru bernuansa instumen Barat. Jika diuraikan secara rinci musik gamelan dapat disejajarkan irama musiknya dengan alat musik Barat. Contohnya:
(1) rebab dapat digantikan oleh alat musik biola.
(2) seruling digantikan flute.
(3) celempungan digantikan gitar melodi.
(4) ketuk digantikan ukulele.
(5) kendang ciblon menggantikan cello.
(6) gong menggantikan bass.
Irama yang dihasilkan dari alat musik tersebut menyerupai gamelan Jawa namun tetap tidak meninggalkan ciri khas musik keroncong, sehingga masyarakat awam bila mendengarkan seperti mendengarkan musik keroncong yang irama dan nadanya mirip dengan gending Jawa. Pembawaan vokal dalam keroncong langgam sedikit berbeda dengan keroncong asli dan stambul karena tanpa cengkok dan gregel. Tempo yang digunakan adalah andante dan moderato. Jumlah birama dalam musik keroncong langgam adalah 32 birama dan bentuk kalimat A-A-B-A. Langgam Keroncong pada  perkembangannya memiliki irama yang lebih bebas. Contoh lagu keroncong langgam antara lain Telaga Sarangan, Rayuan Bulan, Solo di Waktu Malam, Air Terjun Tawang Mangu, Bandha Rupa, dan lain-lain. Jenis musik keroncong langgam merupakan jenis  baru yang muncul ketika musik keroncong masuk di Surakarta. Dalam perkembangannya, musik keroncong  jenis langgam banyak diminati oleh masyarakat Surakarta. Dari aspek budaya, masyarakat Surakarta memiliki kedekatan dengan budaya Jawa sehingga jenis musik keroncong baru seperti keroncong langgam mudah diterima oleh masyarakat. Perkembangan musik keroncong di Surakarta dapat dilihat dari data album rekaman musik keroncong  perusahaan rekaman Lokananta. Bila diperiodisasikan sebagai berikut: periode pertama tahun 1957-1970 terdapat 142 lagu keroncong yang terdiri dari 96 lagu  jenis keroncong asli, 12 lagu keroncong stambul dan 34 lagu jenis keroncong langgam. Periode kedua tahun 1971-1980 terdapat 136 judul lagu keroncong meliputi 90 lagu jenis keroncong asli, 22 lagu jenis keroncong stambul, dan 24 lagu jenis keroncong langgam. Periode ketiga tahun 1981-1990 terdapat 26 lagu keroncong yang terdiri dari 18 lagu jenis keroncong asli, 4 lagu jenis keroncong stambul, dan 4 lagu jenis keroncong langgam. Keroncong mengalami perkembangan pesat pada periode  pertama dengan menghasilkan 142 lagu keroncong yang direkam oleh perusahaan rekaman Lokananta. Pada  periode kedua tahun 1971-1980 musik keroncong tetap digemari, namun mengalami sedikit penurunan dari  periode sebelumnya dengan menghasilkan 136 judul lagu keroncong. Pada periode ketiga tahun 1981-1990 musik keroncong mengalami kemunduran yang ditandai dengan menurunnya rekaman lagu keroncong oleh perusahaan rekaman Lokananta dengan menghasilkan 26 judul lagu keroncong saja. Di Surakarta banyak terbentuk grup orkes keroncong baik amatir maupun profesional. Grup-grup orkes keroncong yang tergolong profesional dapat diketahui dari data grup yang melakukan rekaman di Lokananta dan dikenal oleh masyarakat luar Surakarta. Grup orkes keroncong asli Surakarta yang melakukan rekaman di Lokananta kurang lebih ada 11 grup orkes keroncong antara lain Orkes Keroncong Asli Surakarta, orkes keroncong Cendrawasih, Cempaka Putih, Mawar Sekuntum, dan lain-lain. Sedangkan grup orkes keroncong amatir di Surakarta hampir di setiap Rukun Tetangga terdapat grup orkes keroncong yang sering digunakan sebagai sarana berkumpul oleh masyarakat. Banyak musisi dan penyanyi keroncong dari Surakarta yang populer dan karyanya digemari baik di tingkat nasional maupun internasional. Penyanyi dan musisi keroncong asal Surakarta seperti Gesang, Waldjinah, Andjar Any, dan Sundari Soekotjo mempopulerkan ketiga jenis musik keroncong yaitu keroncong asli, stambul dan keroncong langgam. Gesang dengan lagunya Bengawan Solo menjadi sangat populer dan menjadi simbol musik keroncong dunia. Hal ini menjadi salah satu alasan Surakarta sebagai pusat  perkembangan musik keroncong. Selain dari musisi dan penyanyi yang cukup  populer di atas, Surakarta menjadi salah satu barometer  perkembangan musik keroncong. Hal ini terbukti dengan mulai banyak lahir seniman musik keroncong di Surakarta. Dari data album rekaman Lokananta tahun 1957-1983 terdapat kurang lebih 50 orang penyanyi keroncong dan tergabung dalam 11 grup orkes keroncong. Penyanyi keroncong tersebut diantaranya S. Dharsih Kiswoyo, Maryati, Suharni, Suprapti, Netty, Ismanto, dan masih banyak lagi. Tidak ada penjelasan khusus yang menyebutkan siapa saja penyanyi beraliran keroncong asli, stambul dan langgam karena di Surakarta semua musisi dan penyanyi menguasai ketiga jenis musik keroncong yaitu keroncong asli, stambul, dan langgam. Begitu juga dengan grup orkes keroncong yang dalam setiap album keroncong di dalamnya terdapat ketiga jenis keroncong yaitu keroncong asli, stambul, dan langgam. Di Surakarta ketiga jenis musik keroncong berkembang bersama. Meskipun musik jenis keroncong langgam muncul ketika keroncong masuk di Surakarta, namun masyarakat Surakarta tetap mengembangkan ketiga jenis musik tersebut bersama.

4. Kemunduran Musik Keroncong Musik keroncong di Surakarta berkembang sejak tahun 1960 dan mulai mengalami kemunduran sejak tahun 1990.
Data album rekaman keroncong dari Lokananta mencatat bahwa rekaman album keroncong dimulai sejak tahun 1958 hingga tahun 1983. Kemunduran musik keroncong di Surakarta dibagi menjadi beberapa faktor yaitu faktor eksternal dan internal. Faktor eksternal kemunduran musik keroncong di Surakarta adalah pengaruh jenis musik lain seperti pop, dangdut, rock, dan jazz yang lebih diminati oleh masyarakat. Jenis musik tersebut berasal dari luar Indonesia sebagian besar berasal dari Barat meliputi musik pop, rock, dan jazz serta dari Melayu yaitu musik dangdut. Musik jazz merupakan jenis musik yang berasal dari musik kaum negro di Amerika dan berkembang pada abad ke-20. Pada tahun 1950 di Amerika berkembang sebuah aliran yang disebut “popular music” yang kemudian di kenal dengan musik pop. Bersamaan dengan musik pop, pada tahun 1950 di Amerika juga mulai dikenal musik rock yang identik dengan anak muda yang populer dengan istilah Rock’n Roll. Ketiga jenis musik tersebut berkembang dan menyebar ke seluruh penjuru dunia. Di Indonesia masuknya jenis-jenis musik tersebut adalah karena pengaruh dari media elektronik. Musik jazz masuk ke Indonesia dan mulai dikenal masyarakat sekitar tahun 1960 yang ditandai dengan dibentuknya “Indonesian Allstars” oleh Jack Lesmana. Musik jazz dalam perkembangannya di Indonesia memiliki peminat sendiri, hingga tahun 1990 musik jazz sebagian besar eksistensinya ditunjukkan dari diadakannya pertunjukan dan festival musik jazz. Baru  pada tahun 1994 dibuat album bergenre jazz oleh grup “Krakatau” dengan judul “ Mysthical Mist ” dengan musisinya yang terdiri dari Indra Lesmana, Dwiki Dharmawan, Tri Utami, dan lain-lain. Dibuatnya album  bergenre jazz pada tahun 1994 menunjukkan bahwa pada tahun tersebut minat musik masyarakat mulai beragam dan tidak condong pada salah satu aliran musik saja. Masuknya jenis musik pop/rock di Indonesia mulai dikenal luas oleh masyarakat sekitar tahun 1950. Musik pop/rock di Indonesia tidak banyak mengalami  perubahan dari musik pop/rock Barat, hanya perbedaan  penggunaan bahasa dimana syairnya menggunakan  bahasa Indonesia. Musik pop di Indonesia dalam  perkembangannya mendapatkan tempat tersendiri di masyarakat. Salah satu bukti adalah dengan masuknya musik pop dalam kategori jenis musik yang dilombakan dalam acara pemilihan Bintang Radio di RRI bersama dengan jenis musik keroncong dan seriosa. Jenis musik populer lain adalah dangdut. Istilah dangdut diciptakan oleh Billy Chung yang diambil dari suara alat musiknya berupa perkusi tabla. Musik dangdut erat hubungannya dengan irama melayu dan perkusi tabla India. Kepopuleran musik dangdut sudah ada sejak tahun 1970 yang di bawakan oleh Rhoma Irama. Awalnya  penggemar musik dangdut sebagian besar adalah kalangan bawah, berbeda dengan musik jazz, pop dan rock. Rhoma irama mengatakan bahwa sejak tahun 1970  penggemar musik dangdut dengan musik lainnya terutama musik rock saling bermusuhan, hingga pada tahun 1989 dilakukan perdamaian antara musik dangdut dan rock dengan diadakannya pertemuan antara musisi dangdut yang diwakili oleh Soneta dan musik rock yang diwakili oleh Goodbles. Sejak peristiwa tersebut,  pertikaian antara penggemar musik tersebut berkurang, dan perkembangan musik dangdut dan rock tidak dibatasi karena memiliki penggemarnya masing-masing. Jenis musik pop, rock, jazz, dan dangdut di Indonesia turut berkembang pula di Surakarta. Sebenarnya telah dilakukan beberapa usaha untuk mengatasi masalah ini dengan menggabungkan musik keroncong dengan jenis musik lainnya dan menghasilkan  jenis musik baru Cong-Pop, Cong-Rock, Cong-Jezz, dan Cong Dut. Penggabungan tersebut ada beberapa cara,  pertama jenis lagu-lagu pop, rock, jazz, dan dangdut dibawakan dalam irama keroncong, kedua lagu-lagu keroncong yang diaransemen dalam jenis musik pop, rock, jazz, dan dangdut.
Pada tahun 1990 munculnya grup musik “Cong-Rock 17” mempelopori jenis musik keroncong baru yang dipengaruhi oleh musik rock. Lahirnya grup musik “Honocoroko” mempelopori jenis keroncong yang dipengaruhi oleh musik dangdut. Kedua grup tersebut membawa perubahan pada perkembangan musik keroncong di Surakarta. Grup musik “Cong-Rock 17” dan grup “Honocoroko” yang membawa genre dan aliran yang disebut dengan “Cong-rock” atau Keroncong-Rock dan “Dangkron” atau Dandut-Keroncong. Sejak tahun 1972 sebenarnya musik keroncong ini  pernah mengalami proses akulturasi (perkawinan genre musik) dengan musik lain yang berkembang pada waktu itu. Salah satunya adalah musik pop. Dalam majalah Tempo pernah ditulis tentang proses dan hasil  perkawinan genre musik tersebut dalam sebuah artikelnya yang berjudul “Menikah Pop dengan Keroncong” yang memuat berita mengenai berita perlombaan Bintang Radio yang diadakan oleh Radio Republik Indonesia. Dalam perlombaan tersebut para  peserta lomba menyanyikan perpaduan lagu keroncong dengan lagu pop. Artikel tersebut menyebutkan bahwa salah satu tantangan dari perlombaan adalah kemampuan  peserta lomba dalam menyanyikan lagu pop berirama keroncong atau lagu keroncong yang diaransemen dengan alat musik dari musik pop. Berbagai macam usaha dilakukan untuk menjaga eksistensi musik keroncong agar tetap diterima oleh masyarakat. Namun dalam perkembangannya, peminat musik keroncong sebagian berasal dari golongan tua. Kegiatan lomba di atas kurang mampu untuk menarik minat generasi muda melestarikan musik keroncong sebagai kebanggaan kota Surakarta. Sebagian besar para  pemuda beralih pada jenis musik baru seperti pop, rock, dangdut, dan lain-lain. Pembawaan jenis musik tersebut lebih bebas dan lirik lagu yang menceritakan kehidupan sehari-hari para pemuda masa itu membuat jenis musik  baru mudah untuk diterima di telinga masyarakat. Gaya  busana yang digunakan oleh penyanyi dan musisi terutama musik pop yang modern menjadi daya tarik tersendiri golongan muda. Faktor eksternal kemunduran musik keroncong di Surakarta selanjutnya adalah perusahaan rekaman Lokananta yang memegang peranan penting dalam  perkembangan keroncong di Surakarta dan Indonesia  pada tahun 1970-an. Sejak tahun 1983 Lokananta tidak lagi merekam lagu keroncong baru. Turunnya minat masyarakat terhadap musik keroncong serta munculnya  perusahaan rekaman baru yang memiliki perlengapan modern dan banyak merekam lagu-lagu yang banyak diminati masyarakat menjadi alasan mengapa Lokananta tidak memproduksi album keroncong sejak tahun 1983. Selain itu juga munculnya lagu-lagu selain keroncong yang mulai banyak diproduksi oleh perusahaan rekaman secara umum mendorong Lokananta mulai kurang diminati. Kemunduran ini semakin diperkuat oleh munculnya perusahaan rekaman baru di luar Surakarta yang memiliki perlengkapan rekaman lebih maju dan mengikuti trend musik yang berkembang. Jumlah grup musik keroncong yang cukup banyak di Surakarta tidak berdampak pada meningkatnya  penjualan album keroncong. Sebagian besar kaset keroncong yang paling laris terjual adalah album yang diproduksi pada tahun 1970-1980. Setelah tahun 1980  penjualan terhadap album keroncong mulai mengalami  penurunan. Hal senada juga diungkapkan oleh Magdalia Alfian dalam penelitiannya yang menjelaskan: Based on my observation on the cassette agents (stores) in the Ngapeman-Surakarta, almost all of the cassettes/CDs which are sold are those which were entirely  produced in 1970s to 1980s. Setelah tahun 1983-1990, produksi musik keroncong dalam bentuk kaset/CD di Lokananta dapat dikatakan  berhenti. Produser musik beranggapan bahwa musik keroncong tidak bisa bersaing dengan musik pop yang  berasal dari lagu-lagu Barat maupun Indonesia. Hal ini menyebabkan perkembangan perusahaan rekaman Lokananta sejak tahun 1983 mengalami kemunduran. Kurangnya perhatian pemerintah terhadap keberadaan  perusahaan rekaman Lokananta menjadi penyebab lain kemunduran perusahaan rekaman yang pada tahun 1970-an keberadaanya merupakan faktor penting  perkembangan musik keroncong di Surakarta. Selain faktor eksternal, kemunduran musik keroncong di Surakarta juga disebabkan oleh beberapa faktor internal. Faktor internal penyebab kemunduran musik keroncong di Surakarta salah satunya dari grup orkes keroncong itu sendiri. Di Surakarta pada awal tahun 1990 musik keroncong masih diminati, namun  pada awal tahun 1990 banyak grup musik keroncong yang sudah berdiri sejak awal tahun 1960 membubarkan diri dikarenakan beberapa alasan, antara lain sistem “juragan” yang membuat grup orkes keroncong lemah dalam pengelolaan grup. Ketika pemimpin grup orkes keroncong sakit ataupun meninggal dunia maka grup tersebut bubar. Anggota kelompok yang tidak tetap dan sering berganti-ganti juga menjadi kendala dalam  perkembangan musik keroncong. Alasan sering  bergantinya anggota antara lain karena menikah, sekolah, dan lain-lain. Hal terebut sangat dimungkinkan karena untuk menjadi anggota grup orkes keroncong tidak ada  batasan umur. Anggota yang sering berganti-ganti akan  berpengaruh pada permainan musik keroncong karena musik keroncong yang harus dimainkan secara kelompok, menuntut keharmonisan para anggota grup dalam memainkan alat musiknya Perbedaan juga terdapat pada musisi dan penyanyi keroncong. Pada masa keemasan musik keroncong tahun 1960-1990 menjadi musisi dan penyanyi keroncong merupakan sebuah pekerjaan, namun setelah tahun 1990 sebagian besar para musisi dan penyanyi keroncong tidak lagi menggunakan musik keroncong sebagai mata  pencarian utama, melainkan sebagai penyalur hobi dan tetap menjaga kelestarian budaya. Hal ini disebabkan mulai sepinya undangan manggung untuk pertunjukan  baik hajatan maupun undangan resmi.

Sebelum tahun 1990 hampir di setiap acara seperti acara pernikahan, acara budaya, dan lain-lain, musik keroncong sering diundang sebagai hiburan masyarakat. Setelah tahun 1990 pertunjukan musik keroncong dalam acara-acara hajatan yang diadakan masyarakat semakin jarang dilakukan. Banyak musisi-musisi keroncong yang berprofesi ganda, seperti menjadi guru musik, pegawai pemerintahan, pedagang, dan lain-lain. Menurunnya kreatifitas para musisi keroncong ditandai dengan minimnya lagu baru yang diciptakan. Sebagian besar rekaman album keroncong setelah tahun 1990 hanya me-recycle lagu-lagu lama yang populer pada masa keroncong abadi. Hal tersebut juga diungkapkan oleh Sunarti dalam penelitiannya yang menjelaskan: The decrease of keroncong music can bee seen from the decrease of keroncong recording albums. Feor examples, in the 1970s, Waldjinah produced 44 recording albums, and in the 1980s, she produsced 88 albums. In the 1990s, there were only 38 albums and then in hte 2000s, there were 6 albums only. Althought people who interested in keroncong music decreased more and more, the music does not extinct. Alasan lain mengapa rekaman album keroncong tidak sebanyak tahun 1970-1980 adalah karena produser musik yang mengikuti selera pasar dimana minat masyarakat terhadap musik jenis pop dari Barat dan pop Indonesia semakin besar. Hal ini berdampak pada  perkembangan musik keroncong di Indonesia termasuk di Surakarta. Pada pertengahan tahun 1990-an, karena menganggap perkembangan musik keroncong di Surakarta yang cenderung monoton, para pemuda saat itu  banyak yang berinisiatif untuk menggagas pembentukan grup musik keroncong baru. Salah satu grup musik keroncong yang terbentuk pada masa ini adalah orkes keroncong Swastika tepatnya dibentuk tahun 1994. Menurut penuturan pendiri orkes keroncong Swastika Bapak Sapto Haryono, kendala yang dihadapi pada awal  pembentukan grup adalah minat masyarakat terhadap musik keroncong menurun, karena ada anggapan bahwa musik keroncong digolongkan sebagai musik jaman dahulu. Sebagian besar penggemar musik keroncong adalah orang-orang tua, yang sebagian besar beranggapan  bahwa aturan baku dalam musik keroncong hukumnya mutlak. Hal ini yang menjadi salah satu penyebab musik keroncong pada tahun 1990-an dianggap kuno oleh masyarakat dan tidak dapat mengikuti perkembangan musik yang pada masa itu banyak dipengaruhi oleh musik pop Barat. Keinginan generasi muda di Surakarta tahun 1990-an untuk melestarikan musik keroncong kurang mendapat dukungan positif dari generasi tua (generasi musik keroncong tahun 1960-1980). Generasi muda dalam membawakan musik keroncong dengan gaya  bebas dan tidak mengikuti aturan baku, membuat golongan tua kurang setuju. Salah satu contoh generasi muda yang melestarikan musik keroncong adalah grup orkes keroncong Swastika. Para musisi keroncong golongan tua menganggap para generasi muda sebagai  pesaing mereka, sehingga menghambat proses transfer ilmu dalam memainkan musik keroncong. Golongan tua ingin aturan dalam bermain keroncong tetap dipertahankan seperti jumlah birama yang membedakan  jenis keroncong meliputi aturan urutan intro, coda, akor,  jumlah birama, bentuk kalimat yang berbeda-beda dan menunjukkan masing-masing ciri jenis keroncong baik keroncong asli, stambul, dan langgam. Golongan muda menuntut adanya perubahan seperti kebebasan dalam memainkan musik keroncong tanpa menghilangkan aturan yang telah menjadi ciri khas dari masing-masing jenis keroncong, tapi golongan muda menganggap bahwa permainan musik keroncong yang monoton begitu-begitu saja memberikan kesan kuno terhadap musik keroncong. Golongan muda ingin menciptakan musik keroncong baru yang lebih modern dan dapat diterima oleh segala lapisan masyarakat dan dapat dinikmati oleh semua usia. Hal ini yang menyebabkan golongan tua merasa keberadaan musik keroncong menjadi terancam keasliannya. Golongan tua tidak ingin ada perubahan  pada musik keroncong, sedangkan generasi muda ingin membawa modernisasi pada musik keroncong. Hal ini yang membuat terhambatnya transfer ilmu dari musisi keroncong golongan tua yang telah memiliki banyak  pengalaman kepada para generasi muda. Di Surakarta musik keroncong memiliki tempat tersendiri di hati masyarakatnya. Meskipun masa kejayaan musik keroncong telah lewat, namun di Surakarta musik keroncong masih dilestarikan dengan  baik daripada daerah lain di Indonesia. Upaya yang dilakukan pemerintah dalam melestarikan musik keroncong antara lain dengan dibentuknya HAMKRI (Himpunan Artis Musik Keroncong Republik Indonesia)  pada 16 September 1976 di Jakarta oleh R. Maladi (mantan Menpora). Tujuan dibentuknya HAMKRI adalah untuk melestarikan citra musik keroncong yang di dalamnya mencerminkan nilai-nilai budaya bangsa Indonesia. Namun dalam prakteknya, keberadaan HAMKRI di Surakarta dianggap kurang efektif oleh para musisi dan seniman musik keroncong, sehingga kurang mendapat perhatian. Salah satu upaya yang dilakukan oleh pemerintah dengan pemberian dana APBD (Anggaran Pendapatan Daerah) kota Surakarta yang dialokasikan untuk  pelestarian musik keroncong dengan diberikan kepada grup-grup musik keroncong melalui HAMKRI. Dalam  pelaksanaannya dianggap kurang efektif oleh sebagian musisi keroncong karena dalam penggunaannya sering terjadi penyimpangan seperti korupsi, dan pembagian yang tidak merata terhadap grup musik keroncong. Pemerintah dan musisi keroncong di Surakarta tidak putus asa dan tetap berusaha mempertahankan  pelestarian musik keroncong. Salah satunya dengan mengadakan pertunjukan musik keroncong di tempat-tempat seperti Taman Sriwedari, Balai Sujadmoko, Taman Budaya Surakarta, dan lain-lain. Upaya lain dilakukan oleh Radio Republik Indonesia dengan mengadakan siaran yang di dalamnya berisi pertunjukan musik keroncong.

Sumber:
wawancara Bapak Agung Pamuji Adi, Pengelola Bagian Kesenian Musik Keroncong di Taman Budaya Surakarta tanggal 23 Februari 2015 Jadwal pertunjukan musik keroncong tersebut telah ada sebelum tahun 1990 dan masih bertahan hingga sekarang. Dari data tabel di atas dapat diketahui bahwa setiap minggu di Surakarta mengadakan pertunjukan musik keroncong. Para musisi keroncong yang melakukan pertunjukan dipilih secara bergantian untuk tiap kelompok grup musik keroncong. Hal ini bertujuan untuk menjaga eksistensi musik keroncong serta memberi kesempatan yang sama terhadap para musisi dan seniman musik keroncong untuk berkarya.

Sumber:
“Lokananta Jadi Museum Musik?”. Koran Suara  Merdeka, 22 September 2013. Jakarta.
“Bintang Radio/TVRI se-Jakarta, Tenang-tenang Dan Nostalgik”. Majalah Mas: Musik-Artis-Santai, November 1975, edisi 81, hlm 38-39.
“Stambulan”. Majalah Mas: Musik-Artis-Santai, November 1975, hlm 73.
“Ramai-ramai Menggalakkan Keroncong”. Koran Kompas, 3 Desember 1978, hlm 5
“Menikah: Pop dengan Keroncong”. Majalah Tempo, 28 Oktober 1972, hlm 40
Read more...